Kali ini kita hendak membahas kosakata kanggo. Berasal dari lingga anggo dan wod go. Arti umum dari kanggo ialah dipergunakan untuk. Namun berdasarkan konteksnya kosakata ini menempati banyak fungsi.
Buku iki kanggo wacan.
Ind: Buku ini untuk bahan bacaan.
Eng: This book is for reading material.
Barang iku ora kanggo.
Ind: Barang itu tidak berguna/terpakai.
Eng: That thing is not used/ is useless.
Kanggomu aku iki apa.
Ind: Bagimu, aku ini apa?
Eng: For you, what am I? (What am I for you?)
*Bentuk madyanya ialah kangge, dan kramanya ialah kagêm.
Thursday, 18 October 2018
Tuesday, 16 October 2018
Bagaimana cara belajar bahasa jawa?
Pertanyaan di atas sering terlontar dari banyak orang. Bagaimana cara belajar bahasa jawa, tentu saja tidak hanya sekedar bergantung dengan apa yang ada di kelas sekolah saat ini.
Apabila kita tahu, bahasa itu ialah suatu benda yang bergerak. Bahasa menjadi hidup apabila ia digunakan dan hidup bersama kita. Bahasa itu tidak hanya sastra namun juga hidup di sela-sela kita. Apabila kita menggunakan dan berkeinginan menjadikannya seperti napas kita maka akan sulit untuk menguasasi bahasa.
Bahasa Jawa khususnya sudah lama vakum sebagai bahasa kerja sejak berdirinya Negara Indonesia. Lantas apakah maksudnya? Bahasa Jawa layaknya bahasa daerah yang lain menjadi dianggap tidak banyak berfungsi dan tidak berkembang selain menjadi bahasa 'pasar' semata. Pendidikan bahasa lama kelamaan memudar diperburuk dengan 'pelarangan' penggunaan aksara daerah dan penggunaan aksara Latin untuk bahasa daerah segera setelah Indonesia merdeka.
Lalu, setelah tahu bahwa bahasa Jawa sudah lama tidak digunakan dalam bidang formal apalagi bidang keilmuan, bagaimanakah kita menjadikan bahasa Jawa menjadi bahasa yang relevan tanpa merubah esensi dan keunikan dari bahasa Jawa sendiri? Kita dapat melihat melalui bahasa-bahasa lain yang sempat berkembang 'dengan sendirinya' di saat ilmu pengetahuan selaras berkembang di sekitarnya. Ada bahasa-bahasa Asia Timur yang menggunakan kosakata berdasarkan aksara Kanji yang umum dipergunakan selama berabad-abad (termasuk Korea dan Vietnam) dalam menerjemahkan konsep-konsep dan ilmu-ilmu asing menjadi sesuatu yang mudah dipahami tanpa mempelajari tiap kosakata sebagai sesuatu yang bermakna baru ataupun asing. Lalu, bahasa-bahasa di India serta Asia Tenggara yang banyak mempergunakan kosakata Sansekerta selama berabad-abad juga menggunakannya untuk menerjemahkan kosakata baru dari keilmuana baru yang sebelumnya tidak pernah mereka ketahui namun mudah dimengerti melalui kata-kata Sansekerta yang dipadupadankan ke dalamnya. Relevansi bahasa-bahasa di tempat-tempat di atas menjadi selaras akibat penghidupan bahasa dalam mengakomodasi ide-ide dan konsep-konsep pada jaman yang berkembang namun dengan menggunakan kosakata yang sudah umum diketahui selama berabad-abad dan dipadupadankan menjadi terus hidup. Hal tambahnya, bahasa tersebut hidup secara relevan tanpa tergerus jaman dan bahasa lain yang merubah bahasa asli secara tidak alami dan menggeser kosakata lama yang banyak dipergunakan, umum diketahui, serta dapat dipadupadankan.
Lalu selain relevansi dan menghidupkan bahasa Jawa dalam kehidupan sehari-hari apa lagi? Kita harus memahami setidaknya kosakata ngoko yang ada dalam bahasa Jawa. Kosakata ngoko ialah kosakata dasar yang pasti ada untuk setiap konsep secara umum. Sedangkan kosakata madya dan alus hanya ada pada kosakata tertentu. Apabila ngoko saja masih tercampur dengan kosakata bahasa lain, bagaimanakah kita dapat berbahasa Jawa dengan baik dan benar? Bagaimana kita akan menguasai bahasa Jawa? Jadi kita urutkan prioritas secara bertahap.
Lalu struktur bahasa Jawa yang unik seperti bahasa-bahasa lainnya harus kita pergunakan dan hidup saat kita mempergunakan bahasa Jawa. Caranya ialah kita harus mencelupkan diri atau pikiran kita melalui media-media ekspresi Jawa yang otentik seperti bacaan koran atau majalah di sastra.org, mendengarkan percakapan orang Jawa dipusat-pysat kebudayaan Jawa yang masih kuat dan lain-lain. Sebabtanpa hal ini kita belum benar-benar menguasai bajasa Jawa. Namun, kita harus mengingat prioritas kota secara bertahap. Mana yang kita utamakan dahulu secara persen jumlah dalam tahap-tahap waktu kita belajar.
Jadi untuk mengulas maka yang harus kita pelajari ialah kosakata dan relevansi menerus dalam kehidupan kita, kosakata ngoko, dan struktur kebahasaan yang hidup dan ada dalam bacaan-bacaan atau audio-audio (termasuk yang secara langsuny dari mulut) yang dalam keadaan otentik untuk kita pahami dan gunakan di kehidupan sehari-hari ketika berbahasa Jawa.
Apabila kita tahu, bahasa itu ialah suatu benda yang bergerak. Bahasa menjadi hidup apabila ia digunakan dan hidup bersama kita. Bahasa itu tidak hanya sastra namun juga hidup di sela-sela kita. Apabila kita menggunakan dan berkeinginan menjadikannya seperti napas kita maka akan sulit untuk menguasasi bahasa.
Bahasa Jawa khususnya sudah lama vakum sebagai bahasa kerja sejak berdirinya Negara Indonesia. Lantas apakah maksudnya? Bahasa Jawa layaknya bahasa daerah yang lain menjadi dianggap tidak banyak berfungsi dan tidak berkembang selain menjadi bahasa 'pasar' semata. Pendidikan bahasa lama kelamaan memudar diperburuk dengan 'pelarangan' penggunaan aksara daerah dan penggunaan aksara Latin untuk bahasa daerah segera setelah Indonesia merdeka.
Lalu, setelah tahu bahwa bahasa Jawa sudah lama tidak digunakan dalam bidang formal apalagi bidang keilmuan, bagaimanakah kita menjadikan bahasa Jawa menjadi bahasa yang relevan tanpa merubah esensi dan keunikan dari bahasa Jawa sendiri? Kita dapat melihat melalui bahasa-bahasa lain yang sempat berkembang 'dengan sendirinya' di saat ilmu pengetahuan selaras berkembang di sekitarnya. Ada bahasa-bahasa Asia Timur yang menggunakan kosakata berdasarkan aksara Kanji yang umum dipergunakan selama berabad-abad (termasuk Korea dan Vietnam) dalam menerjemahkan konsep-konsep dan ilmu-ilmu asing menjadi sesuatu yang mudah dipahami tanpa mempelajari tiap kosakata sebagai sesuatu yang bermakna baru ataupun asing. Lalu, bahasa-bahasa di India serta Asia Tenggara yang banyak mempergunakan kosakata Sansekerta selama berabad-abad juga menggunakannya untuk menerjemahkan kosakata baru dari keilmuana baru yang sebelumnya tidak pernah mereka ketahui namun mudah dimengerti melalui kata-kata Sansekerta yang dipadupadankan ke dalamnya. Relevansi bahasa-bahasa di tempat-tempat di atas menjadi selaras akibat penghidupan bahasa dalam mengakomodasi ide-ide dan konsep-konsep pada jaman yang berkembang namun dengan menggunakan kosakata yang sudah umum diketahui selama berabad-abad dan dipadupadankan menjadi terus hidup. Hal tambahnya, bahasa tersebut hidup secara relevan tanpa tergerus jaman dan bahasa lain yang merubah bahasa asli secara tidak alami dan menggeser kosakata lama yang banyak dipergunakan, umum diketahui, serta dapat dipadupadankan.
Lalu selain relevansi dan menghidupkan bahasa Jawa dalam kehidupan sehari-hari apa lagi? Kita harus memahami setidaknya kosakata ngoko yang ada dalam bahasa Jawa. Kosakata ngoko ialah kosakata dasar yang pasti ada untuk setiap konsep secara umum. Sedangkan kosakata madya dan alus hanya ada pada kosakata tertentu. Apabila ngoko saja masih tercampur dengan kosakata bahasa lain, bagaimanakah kita dapat berbahasa Jawa dengan baik dan benar? Bagaimana kita akan menguasai bahasa Jawa? Jadi kita urutkan prioritas secara bertahap.
Lalu struktur bahasa Jawa yang unik seperti bahasa-bahasa lainnya harus kita pergunakan dan hidup saat kita mempergunakan bahasa Jawa. Caranya ialah kita harus mencelupkan diri atau pikiran kita melalui media-media ekspresi Jawa yang otentik seperti bacaan koran atau majalah di sastra.org, mendengarkan percakapan orang Jawa dipusat-pysat kebudayaan Jawa yang masih kuat dan lain-lain. Sebabtanpa hal ini kita belum benar-benar menguasai bajasa Jawa. Namun, kita harus mengingat prioritas kota secara bertahap. Mana yang kita utamakan dahulu secara persen jumlah dalam tahap-tahap waktu kita belajar.
Jadi untuk mengulas maka yang harus kita pelajari ialah kosakata dan relevansi menerus dalam kehidupan kita, kosakata ngoko, dan struktur kebahasaan yang hidup dan ada dalam bacaan-bacaan atau audio-audio (termasuk yang secara langsuny dari mulut) yang dalam keadaan otentik untuk kita pahami dan gunakan di kehidupan sehari-hari ketika berbahasa Jawa.
Sunday, 23 September 2018
Têmbung Silihan
Merupakan kosakata yang dipinjam dari bahasa lain dan digunakan dalam bahasa Jawa. Sedangkan koskata asing yang belum diserap disebut sebagai têmbung mañca. Berikut ini adalah daftar têmbung silihan dalam bahasa Jawa di luar bahasa Sansekerta.
1) Telepisi (Tipi) < televisi < television
2) Telêpun < telephone
3) Henpun < handphone
4) Smatpun < smartphone
5) Kompyuthêr < computer
6) Leptop < laptop
7) Kabêl < kabel < cable
8) Sidhi (CD) < CD
9) Dhifidhi (DVD) < DVD
10) Tustel < tustel
11) Flesdhis < flashdisk
12) Tip < tape
13) Mos < mouse
14) Sipiyu (CPU) < CPU
15) Sêpur < spoor
16) ril < rail
17) Wayfi (wèfi) < wifi
Update terakhir: 24 September 2018
1) Telepisi (Tipi) < televisi < television
2) Telêpun < telephone
3) Henpun < handphone
4) Smatpun < smartphone
5) Kompyuthêr < computer
6) Leptop < laptop
7) Kabêl < kabel < cable
8) Sidhi (CD) < CD
9) Dhifidhi (DVD) < DVD
10) Tustel < tustel
11) Flesdhis < flashdisk
12) Tip < tape
13) Mos < mouse
14) Sipiyu (CPU) < CPU
15) Sêpur < spoor
16) ril < rail
17) Wayfi (wèfi) < wifi
Update terakhir: 24 September 2018
Wednesday, 12 September 2018
Pitêmbung Dhasaran - Kosakata Dasar
Postingan ini memuat daftar kosakata dasar yang dipakai dalam bahasa Jawa. Sebagian kosakata mungkin juga diposting pada materi yang lain di blog ini. Untuk bentuk têngahan, alus, dsb. dapat dilihat di kamus yang saya posting di blog. Untuk kosakata penting namun bukan sebagai dasar pemahaman dalam penggunaan bahasa Jawa maka saya masukkan ke dalam ''Pitêmbung Penting - Kosakata Penting''. Berikut adalah daftar kosakata dasarnya.
Mangan = makan
Ngombe = minum
Turu = tidur
Tangi = bangun
Lungguh = duduk
Mlaku = berjalan
Obah = bergerak
Mênêng = diam
Rame = ramai
Nyawang = melihat
Sênêng = senang
Masukabagya = berbahagia
Mabagya = berbahagia
Ngguwang = membuang
Update terakhir: 13 September 2018
Mangan = makan
Ngombe = minum
Turu = tidur
Tangi = bangun
Lungguh = duduk
Mlaku = berjalan
Obah = bergerak
Mênêng = diam
Rame = ramai
Nyawang = melihat
Sênêng = senang
Masukabagya = berbahagia
Mabagya = berbahagia
Ngguwang = membuang
Update terakhir: 13 September 2018
Pitêmbung Pênting - Kosakata Penting
Pada postingan ini saya akan mendaftar kosakata penting apa saja yang digunakan dalam bahasa Jawa. Untuk bentuk têngahan, alus, dsb. dapat dibuka di kamus yang saya bahas dipostingan sebelumnya. Berikut adalah daftar kosakatanya.
Murang tata = tidak beradab
Rai gêdheg = muka tembok (konotasi)
Tata = aturan, adab
Adat = aturan adat, kebiasaan
Batur tukon = budak
Pabaturtukon = perbudakan
Update terakhir: 13 September 2018
Murang tata = tidak beradab
Rai gêdheg = muka tembok (konotasi)
Tata = aturan, adab
Adat = aturan adat, kebiasaan
Batur tukon = budak
Pabaturtukon = perbudakan
Update terakhir: 13 September 2018
Monday, 10 September 2018
Mañcabrawit
Kosakata adopsi
Mañcabrawit ialah kosakata asing yang telah diserap ke dalam bahasa Jawa oleh karena 'sulit' untuk mendapatkan padanan kata yang diperlukan. Jumlah yang cukup banyak ialah berasal dari bahasa Inggris melalui bahasa Indonesia maupun secara langsung walaupun juga banyak dari bahasa lainnya.
Berikut ini adalah daftar mañcabrawit yang digunakan sehari-hari dalam bahasa Jawa.
1. Telefisi (tifi/tipi) = televisi
2. Radhiyo = radio
3. Kompyuthêr = komputer
4. Kalkulator = kalkulator
5. Internet = internet
6. Intranet = intranet
7. Telêpun = telepon
8. Henpun = telepon genggam (hp)
9. Smatpun = telepon pintar
10. Andhroidh = Android (program)
11. Windhows = windows (program)
12. Offīs = office (program)
13. Lasêr = laser
14. Sêpur = kereta api
15. Ril = rel
16. Pit = sepeda
17. Pit Motor = sepeda motor
Update terakhir: 10 September 2018
Sunday, 9 September 2018
Nawabrawit (Neologi)
Nawabrawit atau istilah lainnya adalah neologi (neologisme) secara khusus ialah kosakata baru yany dibuat guna memenuhi kebutuhan ide-ide dan konsep pemikiran baru yang ada dan sesuai dengan perkembangan jaman di mana konsep-konsep tersebut belum pernah ada dalam lingkaran kebahasaan Jawa.
Nawabrawit di sini utamanya ialah yang dibuat dari Sangskrêtabasa atau bahasa Sansekerta. Sementara yany dibuat dari kosakata Jawa asli, biasanya dianggap alami dalam artian tidak memerlukan pemahaman secara khusus dan seakan-akan sudah lama ada dalam bahasa Jawa sehari-hari.
Nawabrawit ini sangat berguna baik untuk umum maupun untuk bidany keilmuan yang memerlukan kosakata untuk menyampaikan ide dan gagasan mereka kepada orang lain dalam bahasa Jawa sehingga meminimalisir penggunaan serapan asing kecuali benar-benar sulit dibuatkan kosakata barunya.
Kelebihan nawabrawit ialah layaknya aksara Han di Cina, Jepang, dan Korea (dalam Hangeul), penggunaan kosakata Sansekerta ini memudahkan intuisi dalam pengartian dan pengingatan suatu kosakata melalui kosakata penyusunnya di mana teknik ini banyak dipakai di negara yang terpengaruh bahasa Sansekerta seperti Thailand, Laos, India, Nepal, Bangladesh, bahkan Indonesia sendiri.
Berikut ialah daftar nawabrawit yang dapat digunakan sehari-hari:
Purwakara = prototipe
Purwawimba = desain
Agamastika = penganut agama
Wegamastika = agnostik
Widewastika = atheist
Dewastika = theist
Jatikaracitra = hologram
Nagarayasa = milik (buatan) pemerintah
Swayasa = swasta
Citawidya = ideologi
Pakriyawiyatan = sekolah kejuruan (vokasi)
Paristiti = lingkungan, alam
Mrastiti = ramah lingkungan
Pariwidya = sains
Waktabasa = bahasa verbal
Awaktabasa = bahasa non verbal
Cihnabrawit = motto, slogan
Dasawasita = polyglot
Pratalakarawidya = geomorfologi
Bumirupawidya = geografi
Pratalawidya = geologi
Brawitkarawidya = morfologi bahasa
Pariwasita = quote
Krosaswara = yel-yel
*)untuk lengkapnya silahkan buka: Bausastra alit jawi blogspot, dan ketik kosakata yang diinginkan di laman pencarian versi web.
Update terakhir: 10 September 2018
Nawabrawit di sini utamanya ialah yang dibuat dari Sangskrêtabasa atau bahasa Sansekerta. Sementara yany dibuat dari kosakata Jawa asli, biasanya dianggap alami dalam artian tidak memerlukan pemahaman secara khusus dan seakan-akan sudah lama ada dalam bahasa Jawa sehari-hari.
Nawabrawit ini sangat berguna baik untuk umum maupun untuk bidany keilmuan yang memerlukan kosakata untuk menyampaikan ide dan gagasan mereka kepada orang lain dalam bahasa Jawa sehingga meminimalisir penggunaan serapan asing kecuali benar-benar sulit dibuatkan kosakata barunya.
Kelebihan nawabrawit ialah layaknya aksara Han di Cina, Jepang, dan Korea (dalam Hangeul), penggunaan kosakata Sansekerta ini memudahkan intuisi dalam pengartian dan pengingatan suatu kosakata melalui kosakata penyusunnya di mana teknik ini banyak dipakai di negara yang terpengaruh bahasa Sansekerta seperti Thailand, Laos, India, Nepal, Bangladesh, bahkan Indonesia sendiri.
Berikut ialah daftar nawabrawit yang dapat digunakan sehari-hari:
Purwakara = prototipe
Purwawimba = desain
Agamastika = penganut agama
Wegamastika = agnostik
Widewastika = atheist
Dewastika = theist
Jatikaracitra = hologram
Nagarayasa = milik (buatan) pemerintah
Swayasa = swasta
Citawidya = ideologi
Pakriyawiyatan = sekolah kejuruan (vokasi)
Paristiti = lingkungan, alam
Mrastiti = ramah lingkungan
Pariwidya = sains
Waktabasa = bahasa verbal
Awaktabasa = bahasa non verbal
Cihnabrawit = motto, slogan
Dasawasita = polyglot
Pratalakarawidya = geomorfologi
Bumirupawidya = geografi
Pratalawidya = geologi
Brawitkarawidya = morfologi bahasa
Pariwasita = quote
Krosaswara = yel-yel
*)untuk lengkapnya silahkan buka: Bausastra alit jawi blogspot, dan ketik kosakata yang diinginkan di laman pencarian versi web.
Update terakhir: 10 September 2018
Subscribe to:
Posts (Atom)